mind of MINE

a Travel eXploring mE ,,,,,……

When the Magical World of Harry Potter Begin : Re-read Harry Potter and The Sorcerer’s Stone

5 Comments

“It does not do to dwell on dreams and forget to live.”

Tidak tahu pasti sudah berapa kali saya membaca seri Harry Potter sejak pertama kali membeli bukunya tahun 2000, 13 tahun yang lalu.  Mungkin sudah lebih dari sepuluh kali, karena selama itu saya tidak pernah merasa bosan untuk mengulang membaca setiap petualangannya kapan saja saya sempat. Saya orang yang kalau sudah suka sesuatu bisa seperti addicted dan berlebihan. Sebelumnya saya juga sudah pernah menulis awal jumpa saya dengan tokoh fiksi modern terpopuler ini.  Tapi inilah pertama kali saya membaca dengan tujuan untuk membuat review bukunya in a proper way, sebagai bagian dari Hotter Potter Reading Event, yang saya ikuti. Di dunia maya, tak terhitung lagi review yang ditulis dan didedikasikan oleh dan untuk fandom buku terbesar diseluruh dunia ini. What I’m about to write, is not something new, because I’m totally sure that almost all of you knew about Harry Potter story and had read it, at least once in your life. But as a Potterhead, this is my humble scratch and thought dedicated to the world full of magic, full of adventure, laughing, love and warms of Harry Potter. This is for YOU, Potterhead, wherever you are🙂

hp1cover

The Story :

“You’re a wizard, Harry.”

Dunia penuh keajaiban Harry Potter dimulai pada hari kejatuhan  penyihir paling jahat yang pernah dikenal dunia sihir.

Harry Potter, cowok kecil kurus yang sehari-harinya menggunakan baju kebesaran lungsuran dari sepupunya, Dudley, memakai kacamata bulat yang bingkainya dilekat dengan banyak selotip dan yang paling disukainya adalah bekas luka tipis berbentuk sambaran kilat pada dahinya yang menurut Bibinya didapat karena kecelakaan yang menewaskan orangtuanya. Harry tinggal bersama Bibi Petunia, kakak kandung ibunya, dan suaminya, Paman Vernon, serta anak mereka Dudley ,dirumah normal mereka di Privet Drive 4, Little Swinging, Surrey. Sepuluh tahun penuh kesengsaraan yang terpaksa dialami Harry kecil sejak malam dirinya dibawa kerumah tersebut untuk diasuh oleh suami istri Dursley karena orangtuanya meninggal.  Tapi semua itu berubah saat seorang manusia raksasa bernama Hagrid, datang membawakannya surat yang mengundangnya masuk sekolah sihir terkenal Hogwarts untuk belajar disana.

Apa ? Sihir? Harry ternyata penyihir. Dan bukan penyihir biasa. Dialah yang membuat seorang penyihir teramat jahat yang pernah dikenal dalam sejarah dunia sihir, Lord Voldemort, yang bahkan semua orang didunia sihir tak berani menyebutkan namanya dan menyebutnya dengan sebutan Dia Yang Tak Boleh Disebut Namanya atau Kau Tahu Siapa, terpaksa menghilang, saat berusaha membunuh Harry yang masih berumur satu tahun. Penyihir jahat itulah yang membunuh kedua orangtua Harry  yang berusaha menyelamatkannya dari usaha pembunuhan itu. Harry dianggap pahlawan dunia sihir. Harry, yang selama 10 tahun tidur dilemari bawah tangga rumah keluarga Dursley, tak pernah dianggap ada, tak punya teman disekolah, menjadi bulan-bulanan tinju Dudley dan teman-temannya, ternyata dianggap pahlawan dan terkenal.

Begitulah Harry memasuki kehidupan barunya dengan bersekolah di Hogwarts. Bertemu dan bersahabat dengan Ron Weasley dan Hermione Granger, teman sesama penghuni asrama Gryffindor, bermusuhan dengan Draco Malfoy, belajar pelajaran-pelajaran seperti Mantra, Pertahanan Terhadap Sihir Hitam, Transfigurasi, Ramuan , melihat naga dan sihir dalam segala hal. Dia juga menemukan hal yang paling disukainya yaitu terbang serta olahraga sihir Quidditch dimana dia menjadi anggota tim asrama serta tercatat menjadi pemain termuda dalam sejarah. Bersama sahabat-sahabat barunya Harry berusaha memecahkan misteri tentang Batu Bertuah, yang membawanya dalam petualangan penuh ketegangan dan akhirnya berhadapan kembali dengan penyihir jahat yang menyebabkan dirinya berpisah dengan orangtuanya dan yang ditakdirkan untuk menjadi musuh bebuyutannya.

My thought :

“Fear of a name increases fear of the thing itself.”

Buku Harry Potter and The Sorcerers Stone mungkin seri yang paling jarang saya sentuh lagi dari keseluruhan seri HP. Alasannya mungkin karena usia saya yang udah tergolong sangat dewasa inihh huhuu, sekarang rasanya jadi seperti baca buku anak-anak heheheee tapi ini pastinya adalah buku anak-anak  paling serius yang pernah saya baca karena pertama, isinya yang full text, ngga ada gambar, dan lebih tebal dari buku sejenis. Kedua, buku ini memiliki hal-hal yang mungkin cukup mengerikan untuk pembaca kanak-kanak seperti adanya orang berkerudung yang meminum darah unicorn dihutan, anjing berkepala tiga serta wajah dibalik kepala dan tidak ketinggalan cerita kematian orangtua Harry.

Banyak detail yang ternyata baru saya sadari setelah membaca ulang. Bahwa buku ini meski penuh dengan sihir dimana-mana ternyata mengandung realitas seperti kehidupan kita sehari-hari. Realitas yang membuat kita dekat dan tidak protes dengan imajinasi sihir yang bertebaran dibuku ini. Siapa sih yang tidak merasa takut dan tegang saat akan masuk sekolah untuk pertama kalinya, atau merasa cemas akan menjadi anak paling bodoh dikelas. Lalu berkenalan dengan teman-teman baru dan saat bertemu dengan teman yang cocok dengan kita tentu kita akan memilih berteman dengannya, tetapi kalau ada teman yang sok atau sombong, kita pasti akan memilih untuk tidak berteman dengannya. Lalu mengamati siapa orang yang bisa dipercaya dan siapa yang tidak, digambarkan dengan perasaannya yang merasa bahagia saat kedatangan Hagrid yang meski secara fisik sangar tapi ternyata penyayang lalu ketidaksukaannya terhadap Draco yang dianggapnya sombong dan suka menghina sejak mereka pertama bertemu di Diagon Alley; belajar kapan harus mematuhi peraturan dan kapan mengkompromikannya. Just like us when we entered a whole new environments.

Dalam dunia sihir Harry Potter karangan JK. Rowling ini, sama seperti dunia muggles yang kita diami, mereka juga memiliki sistem transportasi kereta api yaitu Hogwarts Express di Stasiun King Cross Peron ¾ , sistem pos menggunakan burung hantu, dokumentasi foto dengan gambar yang bergerak, bank penyihir Gringotts, sampai sistem sekolah asrama Hogwarts dengan ujian akhir, liburan semester, serta kurikulum pelajaran sekolah yang meski tentang sihir, mirip dengan kurikulum muggles dan pastinya bakal disukai oleh pembaca muda. Coba bayangin, alih-alih belajar biologi dengan berbagai gambar bagan tanaman yang ruwet, disini kita malah mempelajari herbologi dengan berbagai tanaman ajaib nan eksotis yang unik-unik itu secara langsung, atau belajar Ramuan menggantikan Kimia dimana kita tidak hanya belajar meracik ramuan biasa seperti obat, tetapi kita akan meramu kejayaan, membotolkan keberuntungan, dan banyak lagi ramuan aneh lainnya, dan jangan lupakan pelajaran terbang yang menggantikan pelajaran olahraga😀 lalu sama seperti seluruh pelajar dimanapun didunia, Harry juga punya guru favorit, guru yang paling tidak disukai, guru dengan cara mengajar paling membosankan dan sebagainya. Dan masih banyak lagi detail imajinasi tak terbatas J.K.Rowling yang selalu membuat saya tak pernah berhenti kagum setiap membacanya.

And for one lil tidbits i remembered most from this book is, how J.K.Rowling created an iconic phrase You-Know-Who/He-Who-Must-Not-Be-Named or in Indonesian, Kau-Tahu-Siapa/Dia-Yang-Namanya-Tak-Boleh-Disebut, which i’m sure became a  very popular pronoun when we need referred to someone we dislike and not wanting anyone else to know whom we mean to😀

Sebagai tokoh utama dan pahlawan dalam buku ini, kalau dibandingkan dengan cerita pahlawan lainnya, Harry Potter sangat jauh dari sempurna. Lihat saja dari segi fisik, dia kurus, memakai kacamata bulat, dengan tampang yang biasa-biasa saja (atau gitu deh yang saya tangkap hehee ), tidak memiliki keluarga yang menyayanginya dengan tulus, rasa kesepian saat sebelum memasuki dalam dunia sihir, hidupnya yang meski diterima didunia sihir tapi didunia muggles dia bukanlah siapa-siapa , serta apa yang dipikirkannya, membuat kita lebih gampang related secara emosi dengan Harry. Pada bagian saat  murid-murid Hogwarts yang diantar oleh orangtuanya akan berangkat ke Hogwarts sedangkan Harry sendirian kebingungan tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk pergi ke peron ¾, atau mirror of erised scenes, ato bagian dimana para murid Hogwarts mendapat pos surat dari orangtuanya saat sarapan, jujur saya menangis, menangis karena merasakan kesepian yang dirasakan Harry, betapa dia sangat mendambakan orangtuanya untuk mendampingi disaat-saat yang paling membuatnya cemas untuk memberikan kata-kata yang menenangkan hati,  atau sekedar mengiriminya permen dari rumah , dan betapa saya menyadari bahwa hingga akhir cerita Harry tidak akan pernah merasakan apa yang begitu diidamkannya itu. Karena itulah Hagrid menjadi tokoh favorit saya disini karena selain dia membuatkan album foto orangtua Harry untuk membantu mengobati kerinduannya terhadap orangtuanya, Hagrid juga yang membuat Harry pertama kalinya merasakan kasih sayang dan penerimaan dalam hidupnya.

And that’s my friends how we entered the magical start of Harry Potter world phenomenon.

Dan akhirnya, entah kenapa abis baca buku Harry Potter bikin saya selalu merasa lapar nih, curiga ada hubungannya dengan deretan nama makanan dibuku yang selalu bikin saya ngiler pas baca, digambarinnya itu enak banget soalnya hihii

my babies in first movie.. so cute ^^

my babies in first movie.. so cute ^^

–The End–

Author: shintalovesearth

just a simple ordinary girl ,,,,,

5 thoughts on “When the Magical World of Harry Potter Begin : Re-read Harry Potter and The Sorcerer’s Stone

  1. ampe sekarang aku masih selalu ngiler kalo baca bagian pastel labu dan chipolata berminyak. Ampe penasaran nyari chipolata tuh apaan sih :))

    • wah mba sama, aku ampe gugling tuh pas baca Chipolata2 itu hahaaa ngebayanginnya dulu itu makanan yg creamy,gurih, penuh lemak seprti keju yg dipanasin sluurrppp hihii ternyata semacam sosis..

  2. Pingback: Re-read : Harry Potter and the Chamber of Secret « mind of MINE

  3. “J.K.Rowling created an iconic phrase You-Know-Who/He-Who-Must-Not-Be-Named or in Indonesian, Kau-Tahu-Siapa/Dia-Yang-Namanya-Tak-Boleh-Disebut, which i’m sure became a very popular pronoun when we need referred to someone we dislike and not wanting anyone else to know whom we mean to :D” —> hahaha bener banget inih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s